Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara.
Dari lobang pada bekas tempat kedua matanya mengucur darah yang begitu
merah bagaikan tiada warna merah yang lebih merah dari merahnya darah
yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari lobang mata itu.
Darah
membasahi pipinya membasahi bajunya membasahi celananya, membasahi
sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai ruang pengadilan yang
sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang baunya bahkan
masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan
berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang
selalu menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera
memotret Saksi Mata itu daris egala sudut sampai menungging-nungging
sehingga lampu kilat yang berkeredap membuat suasana makin panas. “Terlalu!”
“Edan!”
“Sadis!”
Bapak Hakim Yang Mulia, yang segera tersadar, mengetuk-ngetukkan palunya. dengan sisa wibawa yang masih ada ia mencoba menenangkan keadaan.
“Tenang saudara-saudara! Tenang! Siapa yang mengganggu jalannya pengadilan akan saya usir keluar ruangan!”
Syukurlah para hadirin bisa ditenangkan. Mereka juga ingin segera tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.
