“Jika Kehidupan ini Selalu Logis, Maka Akan Sangat Kering,” itu salah satu kalimat yang diucapkan SGA (Seno Gumira Ajidarma) dalam diskusi “Sastra dan Politik, Membaca Karya SGA” di FIB UI, 24 Februari silam. Sebelumnya, izinkan saya menjelaskan bahwa tulisan ini dimaksudkan untuk sharring saja, tidak untuk menelaah lebih lanjut tentang bahasan ‘serius’ tersebut. Tak lain karena keterbatasan pengetahuan saya tentang kritik sastra, tentang posmodern dan modern sebagai kaca mata untuk menelaah karya-karya SGA. Seperti kata Mba Fanny Poyk di Fbnya, kami berdua hanya dua makhluk yang mengangguk-angguk (sok) mengerti di diskusi yang dihadiri para ilmuwan sastra itu dan sesekali ‘nyengenges’ bila hal serius ini disampaikan dengan lucu dan ringan. Yang jelas kami cukup bahagia, dengan belajar dari pembicaraan itu.
Sebelum saya datang ke diskusi ini, saya sudah ‘berusaha’ membaca buku Andy Fuller tersebut. Buku setebal 128 halaman (plus indeks) yang jujur saya akui, tidak mudah untuk saya baca. Saya harus membacanya dua kali bahkan lebih untuk memahami apa yang ada di dalamnya (bahkan sampai buku itu tertinggal di bis dan saya beli lagi). Sampai akhirnya saya menjadi terkagum-kagum, ah betapa tulisan yang selama ini saya jatuh cinta (pada senjanya) menjadi teramat dalam maknanya bila dibaca oleh seorang Andy Fuller.
Baiklah, tidak untuk bermaksud narsis, tapi saya hanya ingin membandingkan betapa sebuah karya akan tumbuh menjadi pohon yang sungguh berbeda ketika berkecambah di pembacaya yang berbeda latar pemahaman. Pada awalnya, saya membaca karya SGA tidak lebih dari cara menikmati saya untuk memahami cerita itu. Ibarat makan biskuit, saya hanya bisa merasakan manisnya biskuit dan seringkali mengagumi kegilaan yang tak biasa dari bentuk-bentuk biskuit yang terhidang. Tapi tidak pernah menelaah, bahwa rasa dan bentuk biskuit yang disajikan adalah lambang dari sebuah jaman pada saat biskuit itu dibikin.
Saturday, June 9, 2012
Sunday, May 27, 2012
Sukab & Sepatu
“Ceritakanlah
padaku tentang kesetiaan,”kata Upik kepada tukang cerita itu. Maka, tukang
cerita itu pun bercerita tentang sepatu.
***
Sukab
masih tercenung memandang sepatunya. Ia seperti memikirkan sesuatu. Lana seolah
bisa membaca pikirannya.
“Dijahit apa, solnya diganti, lantas
disemir lagi.”
Sukab menggelengkan kepala.
“Kamu rupanya memang tidak pernah
mencoba berpikir untuk membeli yang baru.”
“Kenapa harus begitu?”
“Apa salahnya dengan membeli sepatu
baru? Kita tidak hidup di zaman Orla, ketika uang seribu bisa jadi satu rupiah.
Sekarang ini, sepatu lebih dari satu bukan kemewahan. Kalau ada yang bagus dan
kita kepingin, ya beli saja, tidak usah menunggu sepatu yang lama sampai rusak
hancur tanpa sisa. Lagipula kita kan tidak
miskin-miskin amat?”
“Eh!
Nerocos! Kok tumben? Ini bukan soal politik. Ini bukan soal ekonomi.
Ada
apa dengan kamu? Sudah tujuh belas tahun kamu pakai sepatu itu. Setiap kali
mengkap dijahit, kalau sol menipis diganti, warnanya kusam tinggal disemir.
Kenapa tiba-tiba berubah?”
Sukab
menghela napas.
“Aku
sudah bosan.”
Tapi
ucapan Sukab tidak meyakinkan.
“Kukira
tidak. Kamu bukan pembosan. Sebetulnya kamu orang yang setia,” ujar Lana sambil
berlalu, “sudah, berangkat sana. Kalau masih ada kamu, aku tidak bisa menyapu.”
Sukab
mengenakan sepatunya. Memang sudah butut, tapi harus diakuinya, memang enak
dipakai.
Dalam
perjalanan, Sukab berpikir tentang sepatu, dan kesetiaan.
“Benarkah
sebetulnya aku orang yang setia?” Sukab bertanya kepada dirinya sendiri.
Sukab Ingin Jadi Tentara
Begitulah kejadiannya. Sukab, remaja
tingting tujuh belas tahun, tiba-tiba menyatakan ingin jadi tentara.
Meja makan mendadak jadi senyap. Sukab sebentar lagi lulus SMU. Ia seorang pelajar teladan yang hebat.Jago dalam matematika, jago dalam kesenian, jawara pula dalam olahraga. Busyet. Tawaran beasiswa datang dari berbagai perguruan tinggi bergengsi, bahkan ada pula yang dari luar negeri. Astaga, sudah sejak kelas 1 tawaran semacam itu datang. Karena Sukab memang top. Main band bisa, lomba ilmiah remaja pun jadi juara–ditantang berkelahi, malah preman pun dihajarnya. Apa boleh buat. Di dunia ini memang ada orang-orang serba bisa. Dikaruniai bakat seabrek, cakep dan ganteng, cuma namanya saja yang biasa. Sukab.
Meja makan mendadak jadi senyap. Sukab sebentar lagi lulus SMU. Ia seorang pelajar teladan yang hebat.Jago dalam matematika, jago dalam kesenian, jawara pula dalam olahraga. Busyet. Tawaran beasiswa datang dari berbagai perguruan tinggi bergengsi, bahkan ada pula yang dari luar negeri. Astaga, sudah sejak kelas 1 tawaran semacam itu datang. Karena Sukab memang top. Main band bisa, lomba ilmiah remaja pun jadi juara–ditantang berkelahi, malah preman pun dihajarnya. Apa boleh buat. Di dunia ini memang ada orang-orang serba bisa. Dikaruniai bakat seabrek, cakep dan ganteng, cuma namanya saja yang biasa. Sukab.
Dengan otak, prestasi, dan tingkah laku
seperti itu, Sukab menjadi harapan keluarga.
“Dia nanti bisa jadi MBA.”
“Memangnya mengapa jadi MBA?”
“Banyak uangnya.”
“Ah, banyak MBA tidak kaya-kaya amat, mereka cuma bisa jadi pegawai, bukan pemilik.”
“Yah, pokoknya jurusan uang lah!”
“Apa harus jurusan uang?”
“Habis apa?”
Keluarga Sukab memang sudah lama bermimpi bisa melejit dari kubangan kemiskinan. Untunglah, miskin-miskin begitu, mereka bukan dari jenis yang suka main judi, dan mengharapkan uang tiba seketika. Mereka berusaha secara wajar. Kerja yang rajin. Menabung. Belajar keras. Tapi tetap bermimpi menjadi kaya, kalau bisa yang raya. Harapan mereka terletak dalam diri Sukab.
Sukab pasti lulus dengan cepat, pikir Ayah. Segera diterima di perusahaan besar milik salah satu konglomerat, dan pokoknya cepat kaya. Apa itu kaya? Entahlah. Pokoknya yang seperti orang-orang lain yang kaya.
“Apakah engkau sudah memikirkan keputusanmu itu matang-matang, wahai Sukab anakku?”
“Sudah Ayah, aku sudah mantap, aku ingin jadi tentara.”
“Tentara? Kenapa tentara?”
“Karena aku ingin membela bangsa dan negara.”
“Kalau hanya ingin membela bangsa dan negara, kamu tidak harus menjadi tentara wahai Sukab anakku, banyak jalan untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa. Bukan hanya tentara yang bisa mengabdi, bukan cuma tentara yang bisa berkorban.”
“Aku tahu Ayah, tapi aku ingin jadi tentara.”
“Kenapa harus tentara?”
“Tidak harus Ayah, tapi aku maunya jadi tentara.”
“Dia nanti bisa jadi MBA.”
“Memangnya mengapa jadi MBA?”
“Banyak uangnya.”
“Ah, banyak MBA tidak kaya-kaya amat, mereka cuma bisa jadi pegawai, bukan pemilik.”
“Yah, pokoknya jurusan uang lah!”
“Apa harus jurusan uang?”
“Habis apa?”
Keluarga Sukab memang sudah lama bermimpi bisa melejit dari kubangan kemiskinan. Untunglah, miskin-miskin begitu, mereka bukan dari jenis yang suka main judi, dan mengharapkan uang tiba seketika. Mereka berusaha secara wajar. Kerja yang rajin. Menabung. Belajar keras. Tapi tetap bermimpi menjadi kaya, kalau bisa yang raya. Harapan mereka terletak dalam diri Sukab.
Sukab pasti lulus dengan cepat, pikir Ayah. Segera diterima di perusahaan besar milik salah satu konglomerat, dan pokoknya cepat kaya. Apa itu kaya? Entahlah. Pokoknya yang seperti orang-orang lain yang kaya.
“Apakah engkau sudah memikirkan keputusanmu itu matang-matang, wahai Sukab anakku?”
“Sudah Ayah, aku sudah mantap, aku ingin jadi tentara.”
“Tentara? Kenapa tentara?”
“Karena aku ingin membela bangsa dan negara.”
“Kalau hanya ingin membela bangsa dan negara, kamu tidak harus menjadi tentara wahai Sukab anakku, banyak jalan untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa. Bukan hanya tentara yang bisa mengabdi, bukan cuma tentara yang bisa berkorban.”
“Aku tahu Ayah, tapi aku ingin jadi tentara.”
“Kenapa harus tentara?”
“Tidak harus Ayah, tapi aku maunya jadi tentara.”
Sepotong Senja Untuk Pacarku
Alina
tercinta,
Bersama
surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari
terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?
Seperti
setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah,
siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak
sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang
berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang
bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling
mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai
kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.
Kukirimkan
sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh,
karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.
Sudah
terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah
apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya
dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.
Untuk
apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang
masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa
peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli
dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa
makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa
diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.
Kukirimkan
sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong
senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada
dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir
tenggelam ke balik cakrawala.
Alina
yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan
senja itu untukmu.
Sore itu aku duduk seorang diri di tepi
pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan
alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan
warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang
menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan
angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan
kakiku ke dalamnya.
Monday, May 21, 2012
Sukab
Kata orang kamu yang namanya Zino Gumiro Azi Darmo? Kata orang kamu yang bikin antologi Dilarang Bersiul Di Kamar Mandi? Kata orang Protagonist semua cerita itu bernama Sukab? Kata orang di semua ceritera itu kamu ngenye’ Sukab?
Seberapa pentingkah asal-usul Sukab?
Tanpa membawa-bawa teori, saya menjadi geli, karena tokoh fiktif
ini rupa-rupanya lebih eksis ketimbang banyak manusia beneran, yang berdarah
dan berdaging, tapi kehadiranya tidak pernah eksistensial, sehingga kemungkinan
besar tidak pernah diperbincangkan oleh siapapun dalam konteks apapun seumur
hidupnya. Padahal, dalam fiksi pun sukab bukanlah nama seorang tokoh. Sukab
hanyalah sembarang nama yang saya pasangkan kepada setiap tokoh, sekedar karena
saya malas “mengarang”, menyesuai-nyesuaikan nama dengan karakter tokoh supaya
meyakinkan, dan lain sebagainya. Setiap kali saya kesulitan mencari nama, saya
pasang saja nama Sukab. “Toh sama-sama fiktif ini,” pikir saya, “kenapa harus
susah-susah cari nama?”
Tentu saja permainan antara fakta dan fiksi inimerupakan
pekerjaan rumah yang menarik dalam perbincangan makna, namun tentu bukan itu
yang ingin saya bicarakan disini. Saya hanya ingin membagi apa yang saya
ketahui tentang nama Sukab ini, dengan harapan tidak berpengaruh terlalu besar
kepada cerita-cerita saya(yang saya andaikan sudah terlanjur dibaca sebelum
catatan ini), apalagi merusaknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

